Om, jangan tangkap yah??

Ini cerita waktu saya masih bersekolah di SD Muhammadiyah 2 Pontianak. Layaknya anak seumur SD, saya bertingkah selayaknya juga anak SD pada saat itu, lari sana-sini, main bola, manjat pohon, manjat pak guru. Kegiatan terakhir tadi saya batalkan, nanti saya di kira ada hubungan darah dengan bangsa primata. Abaikan. Waktu itu, saya sedang di rumah. Kebetulan pula rumah saya lagi sepi. Saat itu saya di asuh oleh nenek saya ketika orang tua saya pergi bekerja. Saya duduk termenung di rumah, tidak ada temen bermain, karena saya adalah anak satu0satunya yang keluar dari rahim ibu saya. Tiba-tiba, dalam sendiri itu, terlintas di pikiran saya untuk nelpon orang secara random atau bahasa Indonesianya adalah “acak”. Dimulailah kegiatan “Random Calling” tersebut tak lama setelah terlintas pikiran itu. Saat usia SD, saya termasuk anak yang suka iseng, bahkan sampai sekarang, sampai-samapai saya pernah diseret orang berbaju putih dari Rumah Sakit Jiwa karena disangka orang gila. Namun kalimat saya barusan hanya fiktif, jadi jangan dibawa masuk ke dalam hati. Saya mulai menelepon orang yang nomor teleponnya saya tekan secara acak asal saya senang saja. Beberapa kali menelepon, bilang “halo”, langsung saya tutup, sambil ketawa-ketiwi. Sampai pada suatu nomor yang saya tidak ingat berapa nomornya, sesorang, bapak-bapak, bersuara bass (seperti orang batuk keras), mengangkat telepon saya. Bapak itu berkata, “halo, kantor polisi”. Jeng jeng jeng……. saya terkejut setengah mati. Bapak itu berkata “halo” lagi, tapi saya tetap diam. Bodohnya saya, tidak langsung menutup telepon itu, saya justru diam. Setelah panggilan “halo” yang ketiga, saya angkat bicara, “halo”, kata saya. Bapak yang katanya polisi di seberang sana bertanya, “ya ada perlu apa?”. Matilah saya, berbisik dalam hati. Saya beranikan diri untuk bicara, “saya tidak perlu apa-apa pak, saya cuma iseng. TOLONG JANGAN TANGKAP SAYA YA PAK? TOLONG PAK!”, saya berbicara dengan nada suara yang bergegar dan hampir menjatuhkan air mata. “iya tidak apa-apa, lain kali jangan begitu lagi ya”, sahut bapak polisi itu ramah. “BENAR YA PAK, JANGAN TANGKAP SAYA YA?”, saya meyakinkan kembali. “iya”, kata si bapak. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada pak polisi itu, dan menutup telepon. Saya tidak dapat membayangkan, pasti wajah saya saat itu seperti orang yang tidak sengaja menabrak bencong pinggir jalan, trus si bencong ngamuk, mencegat saya, terus memaksa untuk dinikahi dengan saya. Subhannallah, jangan sampai terjadi. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mencoba untuk “Random Calling”. Sudah cukup saya merasakan kondisi dimana saya tertekan begitu dalam, dan merasa ingin mengubur diri agar tidak di tangkap polisi. Hahaha, benar2 bodoh kalau di pikir sekarang. Terkadang, sesuatu yang ingin kita lakukan, apapun itu, haruslah kita pikirkan dulu apa akibatnya dari apa yang kita lakukan, sehingga hal-hal yang tidak seharusnya terjadi, bisa di cegah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s